Akuakultur Terintegrasi, Teknologi, dan Visi Besar Perkembangan Ekonomi

Isu kemiskinan dan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan sudah menjadi hal yang sangat wajar terdengar di Indonesia. Namun permasalahan ini tetap

Penerapan Pengelolaan Air yang Ramah Lingkungan dengan Sistem Resirkulasi Akuakultur (RAS)
Yuk, Kenali Berbagai Penyakit Udang! (Edisi Virus Bagian 2)
Sistem Logistik Ikan Nasional, Aktor Penting dalam Distribusi Perikanan Indonesia

Isu kemiskinan dan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan sudah menjadi hal yang sangat wajar terdengar di Indonesia. Namun permasalahan ini tetap menjadi sebuah kejanggalan besar jika dibandingkan dengan potensi pesisir dan perikanan Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Permasalahan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan tanggung jawab semua lini masyarakat dalam segi bisnis, teknologi, ilmu pengetahuan, perbankan, pembudidaya ikan itu sendiri, dan lain sebagainya.

Menurut Hartoyo dan Aniri (2010), permasalahan kemisikinan ini dapat terjadi karena dua faktor utama yaitu pendidikan dan kecilnya pendapatan dalam keluarga pembudidaya ikan. Kecilnya pendapatan secara langsung akan berpengaruh dalam pemenuhan kebutuhan keluarga pembudidaya ikan yang sangat beragam jumlah keanggotaannya. Semakin banyak anggota keluarga, maka semakin tinggi pula pendapatan yang harus dicapai untuk memenuhi kebutuhan keluarga pembudidaya. Sementara itu, pendidikan formal ataupun non-formal menjadi salah satu faktor yang berpengaruh karena hal ini sangat menentukan bagaimana keluarga pembudidaya ikan mampu mengelola bisnis budidaya perikanan yang digelutinya secara teknis dan non-teknis. Faktor pendidikan ini juga berbanding lurus dengan besar atau kecilnya pendapatan yang dapat diperoleh oleh pembudidaya ikan. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki pembudidaya ikan, semakin handal seorang pembudidaya ikan dalam mengelola dan berionvasi di bisnis budidaya ikan yang dimilikinya. Bahkan, Pakar bisnis dan peneliti, Marn and Rosiello (1992), dalam Harvard Business Review juga menekankan bahwa pengelolaan bisnis dan inovasi yang baik cenderung akan memberikan profit yang tinggi dalam sebuah usaha.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu dirancang sebuah program edukasi dan ekosistem bisnis akuakultur yang terintegrasi dengan baik, mulai dari pembekalan edukasi aspek budidaya dan pengelolaan keuangan, ketersedian market place platform, supply chain yang jelas, pengembangan Internet of Things (IoT) dalam akuakultur, hingga adanya platform crowd-investment untuk pembudidaya ikan. Sehingga, pembudidaya ikan akan lebih mudah dalam mengikuti perkembangan zaman dan para konsumer lebih mudah terhubung dengan pembudidaya ikan secara langsung.

Gambar 1. Konsep Pengembangan Terintegrasi

Integrasi yang dimaksud adalah tersedianya solusi-solusi dalam setiap tahapan proses  (input-process-output-outcome) budidaya perikanan yang bersifat kolaboratif (Gambar 1). Ekosistem kolaboratif ini harus dibangun oleh berbagai lini yaitu pemerintah, lembaga riset, start-up company, dan pembudidaya ikan itu sendiri. Yang diawali dengan program penyediaan modal inovatif, program edukasi akuakultur berkelanjutan, dan edukasi manajemen finansial. Selanjutnya, dalam proses budidaya itu sendiri dengan perlu adanya pendampingan teknis dan penggunaan teknologi berbasis internet untuk mempermudah pengelolaan budidaya ikan. Terakhir, pengembangan inovasi dibidang penyediaan pasar (market place) dan supply chain juga menjadi penting untuk memastikan bahwa produk budidaya dapat terserap oleh konsumer dengan cepat, baik, dan memiliki profit tambahan.

Dalam era digitalisasi bisnis ini, perkembangan teknologi akuakultur (Agri-tech) di semua lini yang terintegrasi ini memiliki peran yang sangat penting untuk mewujudkan hal tersebut. Inovasi juga menjadi sebuah hal penting yang dapat mempercepat perkembangan tersebut.  Sehingga outcome yang diharapkan dapat terwujud.

Menjamurnya agri-tech start-up seperti Growpal, eFishery, Aruna, Jala, dan lain sebagainya akhir-akhir ini juga membawa angin segar dalam industri budidaya perikanan Indonesia. Namun, perlu disadari ekosistem kolaboratif juga harus dibangun untuk menakomodir inovasi-inovasi tersebut dalam keberlanjutannya. Ekosistem tersebut harus dibangun oleh pemerintah sebagai pemangku kebijakan, dan dinisiasi sendiri secara mandiri oleh start-up company tersebut. Integrasi adalah sebuah kunci yang harus benar-benar diterapkan dalam Fisheries Development. Sehingga, harapan kedepannya sektor budidaya perikanan mampu menjadi tiang yang kokoh dalam meningkatkan perkonomian Indonesia.

Penulis:

Fariz Kukuh Harwinda

Sumber:

Hartoyo, dan Aniri, N. B. 2010. Analisis Tingkat Kesejahteraan Keluarga Pembudidaya Ikan dan Non-Pembudidaya Ikan di Kabupaten Bogor. Jur. Ilm. Kel. dan Kons., 64-73.

Marn, M. V., and Rosiella., R. L. 1992. Managing Price, Gaining Profit. Harvard Business Review.

 

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0