Bermodal Semangat Gotong Royong, Masyarakat Tani Tulungagung Hidupkan Mobilisasi Produk Patin

Kementrian Kelautan dan Perikanan (2016) menyebutkan bahwa selama 5 tahun terakhir sejak 2011, produksi ikan patin terbesar masih dikuasai Sumatera Se

Crowdfunding Perikanan, Solusi terhadap Tantangan Kesejahteraan Pangan
Ikan Kerapu: Rasa Nikmat, Kaya Manfaat
Lezat dan Bernutrisi, Udang Berperan Penting Dalam Kesehatan

Kementrian Kelautan dan Perikanan (2016) menyebutkan bahwa selama 5 tahun terakhir sejak 2011, produksi ikan patin terbesar masih dikuasai Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Namun, permintaan pasar yang paling besar masih tetap dikuasai kota-kota industrial. Industri pengolahan baik skala pabrik maupun restoran saat ini masih terpusat di Jakarta dan beberapa kota besar di pulau Jawa. Hal ini tentu menyebabkan meningkatnya biaya transportasi dan juga menurunnya harga jual karena semakin banyak middle man yang terlibat. Namun secara pasar, para petani patin bisa merasa optimis karena tingkat konsumsi patin secara domestik maupun internasional meningkat secara bertahap dengan prosentase sebesar ± 20%. Selain itu, KKP (2018) mencatat maraknya kampanye “Ayo Makan Ikan” juga berdampak ke peningkatan konsumsi ikan nasional mencapai angka 10,38 kg per kapita.

Dengan permasalahan yang ada dan ekosistem pasar yang suportif ini, Ridwan seorang petani patin senior di Tulungagung ini merasa optimis dan tidak mau kehilangan momentum untuk dapat mengembangkan usahanya di bidang budidaya patin dan mencukupi pasar di pulau Jawa. Ternyata, permasalahan tidak berhenti pada jarak wilayah perindustrian dan lokasi budidaya saja. Permasalahan yang dialami Ridwan dan beberapa petani lainnya adalah tidak adanya akses modal untuk pengembangan usaha, dan banyaknya petani kecil yang tidak terorganisir dengan baik. Petani yang tidak terorganisir ini akhirnya menyebabkan harga jual ikan yang murah karena petani kecil tidak mampu memenuhi batas minimal pengiriman yang ditetapkan oleh supplier. Selain itu, hal ini juga menyebabkan tidak adanya standar produk yang jelas, dan akhirnya banyak ikan yang ditolak karena ketidaksesuaian kualitas ikan.

Dengan melihat permasalahan ini, Ridwan dan rekan-rekannya mulai menginisiasi asosiasi bernama Kelompok Pengolah dan Pemasar Mina Barokah yang selanjutnya disebut Poklahsar Mina Barokah. Asosiasi ini berdiri pada pertengahan tahun 2018, awal mula kelompok ini berdiri adalah untuk mewadahi orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pemasaran dan pengolahan ikan tawar, khususnya ikan patin. Ridwan berharap adengan adanya asosiasi ini, seluruh pihak yang terlibat dalam usaha budidaya ikan patin mulai dari pekerja panen hingga pengolah dapat secara gotong royong terlibat dan tumbuh bersama.

Poklahsar Mina Barokah sendiri memiliki tujuan untuk mensejahterakan masyarakat yang tergabung melalui program standarisasi budidaya ikan patin, standarisasi pengolahan ikan patin, serta penampungan dan penjualan ikan patin dengan harga yang telah disepakati bersama. Dengan adanya penetapan standar yang jelas, maka para petani memiliki kedisiplinan yang lebih dalam prosesnya untuk membudidayakan ikan dengan hasil panen yang baik dan terkualifikasi dengan baik untuk kebutuhan industri dan restoran. Selain itu, bersatunya para petani dan pengolah patin ini dapat meningkatkan harga jual karena dengan sistem patungan panen, petani dapat saling mencukupi hasil panen antar anggota dan mencukupi batas minimal pengiriman yang ditetapkan secara bersama oleh asosiasi. Dalam hal manajemen produksi, Poklahsar Mina Barokah juga mengatur penjadwalan tebar dan panen, metode yang digunakan dalam budidaya dan juga bertanggung jawab dalam program pembinaan untuk petani. Hal ini tentu sangat penting dilakukan untuk menjamin kualitas produk patin dan ikan tawar lainnya yang akan dikonsumsi atau diproses oleh pabrik.

Di sisilain, dalam masalah akses permodalan, Ridwan yang telah memiliki pengalaman bekerja sama dengan Growpal mencoba menghubungkan pihak Poklahsar Mina Barokah dengan Growpal sebagai solusi pendanaan untuk petani kecil. Dengan pertimbangan yang terukur antara kedua belah pihak, akhirnya Growpal pun sepakat untuk memberikan akses pendanaan oleh masyarakat (investor) kepada asosiasi tani ini untuk pengembangan usaha perikanan. Ridwan sebagai penghubung pun tidak hanya melihat Growpal sebagai pihak pendana saja, melainkan sebagai mitra kerjasama secara profesional yang memiliki jaringan pasar dan jasa pengiriman yang luas yang mana dapat memberikan dampak mutualisme untuk kedua belah pihak.

Growpal sebagai mitra profesional tentunya juga memberikan akses ke supplier tangan pertama yang mana mampu memastikan mobilisasi produk ikan air tawar ini berjalan dengan cepat, lancar, aman, dan dengan harga jual yang menguntungkan. Dalam rantai dingin perikanan, pengiriman produk perishable menjadi faktor kunci yang mana menentukan apakah produk mentah ini akan layak dikonsumsi atau tidak oleh restoran dan pabrik. Maka dari itu, kegiatan mobilisasi perikanan oleh supplier ini menjadi nilai lebih dari kerjasama ini. Kebijakan ini pun harus disepakati bersama dan menjadi acuan bersama Poklahsar Mina Barokah dalam mengorganisir produksi patin yang dilakukan mulai dari standarisasi hingga penjadwalan produksi.

Alhasil, gotong royong Poklahsar Mina Barokah dan Growpal yang telah berjalan selama beberapa bulan terakhir ini mampu menghasilkan hasil yang cukup produktif untuk investor yang terlibat dan juga masyarakat tani. Poklahsar Mina Barokah mampu memasok kebuthan beberapa pabrik dan restoran besar di Jakarta, Bandung dan Surabaya secara terstruktur dan terjadwal dengan baik. Dengan semangat gotong royong ini, Ridwan mampu membuktikan bahwa permasalahan yang ada soal produksi ikan patin ini dapat diatasi. Saat ini, Tulungagung mampu menjadi produsen patin terbesar di Jawa Timur yang akan segera dapat bersaing dengan Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.

Secara gambaran yang lebih besar, sebenarnya usaha gotong royong yang dilakukan tidak terjadi antara Ridwan dan masyarakat tani Tulungagung saja. Namun, usaha gotong royong ini juga dilakukan oleh para investor dan Growpal, serta supplier dan Poklahsar Mina Barokah. Dengan kata lain, budaya gotong royong ini terjadi di setiap lini dan lapisan masyarakat perikanan dan menjadi komponen yang sangat penting dalam pengembangan usaha perikanan masyarakat dan mobilisasi produk dari lokasi budidaya hingga tersaji dengan baik sebagai santapan makan malam.

Penulis:

Fariz Kukuh

Referensi:

Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2016. Peta Sentra Produksi Perikanan Budidaya. Jakarta.

Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2018. Produktivitas Perikanan Indonesia. Jakarta.

COMMENTS

WORDPRESS: 0