Budidaya Ikan Menjawab Kebutuhan Pangan Masa Depan

Perikanan telah menjadi sektor yang memberikan kontribusi besar dalam pembangunan nasional. Sektor pemanfaatan dan pengolahan sumberdaya peraira

PENDEDERAN: Tombak Awal Penentu Bibit Unggul Produk Perikanan

Perikanan telah menjadi sektor yang memberikan kontribusi besar dalam pembangunan nasional. Sektor pemanfaatan dan pengolahan sumberdaya perairan ini memberi sumbangan yang cukup siginifikan bagi kehidupan masyarakat, yaitu untuk memenuhi kebutuhan pangan serta pembangunan ekonomi.

Saat ini, tiap-tiap negara sedang berusaha untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya, tidak hanya dalam sisi jumlah tetapi juga dari sisi mutu kandungan gizi. Ikan menjadi salah satu alternatif makanan yang berprotein tinggi. Karena itu, banyak negara yang mengampanyekan agar rakyatnya mau meningkatkan konsumsi ikan mereka. Ini karena, ikan memiliki ragam harga yang bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kalangan ekonomi atas hingga menengah ke bawah. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan konsumsi ikan baik dalam skala domestik maupun dunia. Kondisi ini mendorong negara-negara produsen ikan untuk melipatgandakan produksi mereka. Ditambah lagi dengan pertumbuhan penduduk dunia yang selalu meningkat tiap tahunnya, kebutuhan ikan dunia akan semakin melonjak.

Pada satu sisi, keadaan ini membawa kabar gembira bagi pertumbuhan ekonomi negara produsen ikan. Namun di sisi lain, ini akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan sektor perikanan dalam jangka panjang. Bagi Indonesia misalnya, peningkatan kebutuhan ikan di tingkat domestik maupun di tingkat dunia telah menunjang kemajuan ekonomi nasional. Produksi ikan tangkap menurut Laporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2018, meningkat dari 6,68 juta ton pada tahun 2015 menjadi sebanyak 7,25 juta ton pada tahun 2018. Meskipun populasi ikan di laut Indonesia cukup banyak, namun kegiatan penangkapan ikan tetap harus dikendalikan. Karena makhluk sumber pangan ini bisa saja punah jika diburu secara berlebihan. Pada tahun 2017, peringatan terhadap akan terjadinya kepunahan pada jenis ikan tuna telah diterbitkan oleh Indian Ocean Tuna Comission (IOTC). Lembaga ini mengatakan bahwa tuna di Indonesia sudah ditangkap secara berlebihan (overfishing). Bila tren overfishing terus berlanjut, IOTC memprediksikan dalam tiga sampai sepuluh tahun tuna sirip kuning atau yellowfin dan cakalang terancam punah (Katadata.co.id, 2017).

Memang nilai ekspor ikan tuna Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, nilai ekspor ikan ini sebesar US$500 juta dan pada tahun 2018 meningkat mencapai US$619,63 juta. Namun, kesadaran akan ancaman kepunahan ikan ini telah muncul semenjak tahun 2015. Di tahun tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan peraturan menteri NOMOR 4/PERMEN-KP/2015 tentang Larangan Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia 714. Dalam peraturan ini ditegaskan bahwa penangkapan ikan tidak boleh dilakukan di wilayah pemijahan dan wilayah bertelur ikan.

Ancaman kepunahan ini tentu saja tidak hanya dialami oleh ikan tuna, berbagai jenis ikan laut lainnya pun akan mengalami nasib yang serupa jika perilaku penangkapan ikan yang merusak tidak dihentikan. Karena itu pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan yang diantaranya terkait dengan pencegahan illegal fishing, peraturan jalur penangkapan ikan, pembatasan ukuran ikan yang ditangkap, serta ketentuan alat tangkap ikan.

Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan kepada upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dalam melestarikan jenis-jenis ikan tertentu melalui proses pembudidayaan. Dukungan ini dilakukan pemerintah diantaranya dengan penyedian bibit ikan kerapu bermutu di UPT dan unit Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT). Mudahnya akses benih ikan kerapu bermutu ini mengakibatkan terjadinya peningkatan produksi budidaya ikan kerapu. Pada tahun 2018, produksi budidaya ikan kerapu mencapai 85.933 ton, meningkat sebanyak 71.793 ton sejak tahun 2014.

Lonjakan hasil budidaya ikan kerapu ini juga dipicu oleh tingginya nilai ekonomis ikan ini serta masih terbuka luasnya peluang pasar. Hal serupa juga terjadi pada komoditas ikan gurame dan udang. Sejak tahun 2015, produksi udang telah meningkat sebanyak 815.875 ton, mencapai 1.406.341 ton pada tahun 2018. Sedangkan gurame telah meningkat sebanyak 155.691 ton, mencapai 269.098 ton.

Secara keseluruhan volume produksi perikanan budidaya terus meningkat tiap tahunnya. Peningkatan ini bahkan mencapai tiga kali lipat dari peningkatan hasil perikanan tangkap. Tercatat pada tahun 2015, produksi perikanan budidaya sebesar 15.634.093 ton. Sedangkan pada tahun 2018 sebesar 17.248.384 ton. Ini berarti dalam tiga tahun terakhir, produksi perikanan budidaya telah meningkat sebesar 1.614.291 ton atau kenaikan rata-rata per tahunnya sebesar 3,36 persen. Sementara, kenaikan produksi ikan tangkap pada tiga tahun terakhir sebesar 570.495 ton yaitu dari 6.677.802 ton pada tahun 2015 menjadi 7.248.297 ton pada tahun 2018.

Perikanan budidaya perlu terus ditingkatkan kedepannya agar dapat memenuhi permintaan pasar yang meningkat serta menjaga ekosistem perairan kita. Karena itu, dukungan dari seluruh pihak sangat dibutuhkan. Para petani ikan membutuhkan dukungan permodalan, ketersedian benih, teknologi budidaya, pemasaran, hingga regulasi-regulasi yang berpihak kepada mereka. Tanpa itu semua, peningkatan volume produksi perikanan budidaya tidak akan mencapai target yang diharapkan.

Penulis: Nayla Afnan

Sumber
Firman, Muhammad. (17 Februari 2017). Tuna Indonesia Terancam Punah dalam 3-10 Tahun. Katadata.co.id. Diambil dari https://katadata.co.id/berita/2017/02/17/tuna-indonesia-terancam-punah-dalam-3-10-tahun
Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2015). Peraturan Menteri NOMOR 4/PERMEN-KP/2015: Larangan Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia 714. http://jdih.kkp.go.id/peraturan/4-permen-kp-2015-ttg.pdf
Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2018). Laporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2018. Diambil dari https://kkp.go.id/artikel/9313-laporan-kinerja-kkp-2018

COMMENTS

WORDPRESS: 0