Ciptakan Budidaya Udang Berkualitas Unggul dengan Penerapan Biosecurity

“Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati” merupakan peribahasa kuno yang penggunaannya tetap relevan sampai saat ini. Tidak terkecuali dalam melakukan

Yuk, Kenali Berbagai Penyakit Udang! (Edisi Virus Bagian 1)
Sistem Logistik Ikan Nasional, Aktor Penting dalam Distribusi Perikanan Indonesia
Yuk, Kenali Berbagai Penyakit Udang! (Edisi Bakteri)

“Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati” merupakan peribahasa kuno yang penggunaannya tetap relevan sampai saat ini. Tidak terkecuali dalam melakukan budidaya udang. Salah satu hal yang perlu diperhatikan saat mulai melakukan budidaya adalah memikirkan pencegahan masuknya penyakit untuk meminimalkan risiko selama produksi, dan salah satu caranya adalah dengan melakukan Biosecurity. Namun, apa sih biosecurity itu?

Biosecurity merupakan serangkaian prosedur dan langkah-langkah yang dilakukan diambil untuk pencegahan munculnya penyakit seperti pemeliharaan, pembenuran, pembesaran dan pencegahan meluasnya penyebaran penyakit yang terjadi dari tambak yang terinfeksi. Biosecurity sangat penting untuk keberhasilan dan keberlanjutan dalam budidaya udang saat ini.
Biosecurity dalam budidaya udang diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

1. External Biosecurity
Hal ini melibatkan penyaringan semua input yang masuk ke tambak dari luar. Input utama adalah benih, diikuti oleh pakan dan produk kesehatan. Benih adalah kunci utama kesuksesan dalam budidaya udang dan harus diuji secara tepat sebelum ditebar ke dalam tambak.

2. Internal Biosecurity
Hal ini melibatkan semua tindakan dan protokol dalam operasi tambak yang diadopsi untuk menghindari penyebaran penyakit antar tambak yang berbeda. Manajemen tenaga kerja yang efektif memegang kunci dalam mencegah pelanggaran internal biosecurity.
Petambak perlu memahami dengan jelas pentingnya kedua konsep biosecurity di atas untuk dapat mengelola tambak mereka agar bebas penyakit. Di bawah ini tercantum beberapa tips biosecurity sebagai kunci dalam pengelolaan tambak udang:
⦁ Membeli benih dari tempat yang kredibel dan sukses setelah pemeriksaan yang tepat untuk semua patogen yang terdaftar OIE (World Organization for Animal Health) setidaknya di dua laboratorium yang kompeten untuk hasil yang akurat. Melakukan aklimatisasi tangki (proses penyesuaian diri dari benih terhadap perubahan kondisi lingkungan) saat menebar benih di mana beberapa pekerja masuk ke beberapa kolam selama penebaran.
⦁ Disarankan untuk hanya menggunakan merek pakan dan produk kesehatan terdaftar di tambak Anda. Produk hasil tambak wajib memenuhi standar keamanan pangan internasional dan syarat traceability (dapat dilacak) untuk menghindari penolakan ekspor.
⦁ Desain tambak yang baik membantu implementasi protokol biosekuriti dengan lebih mudah. Idealnya tambak udang harus memiliki tambak pemukiman (10% dari total tambak), reservoir (30%), dan area budidaya (60%) yang menggabungkan sistem penyaringan air empat tahap untuk menyaring semua carrier dan vector penyakit memasuki area tambak budidaya.
⦁ Komponen perlindungan seperti sarang burung, pagar hewan, alat/mesin cuci tangan dan kaki merupakan hal yang harus disediakan di setiap tambak.
⦁ Menggunakan alat pengumpan otomatis terbukti sangat baik untuk kolam tambak. Pemberian makanan secara manual oleh pekerja di gundukan dan kapal di beberapa kolam juga meningkatkan ancaman penularan wabah penyakit.
⦁ Hindari pemanenan parsial menggunakan jaring seret, mengizinkan beberapa pekerja untuk masuk ke dalam tambak adalah merupakan pelanggaran dalam biosekuriti.
⦁ Dan yang terakhir, sangat penting untuk mengaudit dan mengevaluasi kapasitas pengangkutan tambak udang dan stok benih yang sesuai. Perhatikan padat tebar dan hindari menebar benih secara berlebih karena dapat menyebabkan stress pada udang. Semakin tinggi padat tebar tambak, maka limbah organik semakin mudah bermunculan. Banyaknya limbah organik dapat mengakibatkan rusaknya lingkungan dan penyakit akan cepat bermunculan.
Penerapan biosecurity pada tambak merupakan suatu kewajiban jika ingin memitigasi risiko kegagalan dalam berbudiya. Baik untuk tambak skala tradisional apalagi tambak intensif wajib menerapkan hal ini. Dibandingkan harus mengambil risiko kegagalan dan menghilangkan margin yang sangat besar, tentu akan lebih bijak jika petambak mengurangi marginnya untuk meningkatkan potensi kegagalan melalui aplikasi biosekuriti di tambak untuk menghasilkan lingkungan budidaya yang baik. Kualitas lingkungan yang baik akan menghasilkan produktivitas tinggi dan tahan dari penyakit. Ingat lah bahwa setiap perlakuan yang diberikan akan memberikan efek pada sistem yang terjadi dalam tambak.
Penulis:
Quartina Pinunjul Winarti
Source:
⦁ Aqua Deals. (2017). Best Management Practices for Biosecurity & Shrimp Health Management.
⦁ Sharma, M., M. (2019). Practical Biosecurity in Shrimp Farms. Vol. 2, Issue 10.

COMMENTS

WORDPRESS: 0