Equity Crowdfunding: Penggerak Roda Ekosistem Usaha Perikanan

Selain sumberdaya manusia dan sumberdaya alam, bisnis perikanan juga membutuhkan modal usaha yang cukup besar sebagai bahan bakar utamanya. Akses permodalan masih menjadi hal yang cukup sulit untuk didapatkan oleh pengusaha perikanan. Berdasarkan data United Nation Development Program (Gambar 1.), sektor perikanan masih berada pada posisi terendah dari seluruh sektor investasi usaha di Indonesia hingga tahun 2017. Hal ini tentu menjadi sebuah fakta menarik untuk dicermati jika kita mengacu pada potensi sumberdaya perikanan Indonesia yang cukup besar. Selain itu, fakta ini juga sangat berseberangan dengan salah satu visi besar pemerintah Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia.

Gambar 1. Potensi Market Crowdinvestment Perikanan Indonesia

Risiko di Bidang Perikanan

Perikanan tergolong dalam suatu unit usaha yang memiliki risiko yang sangat besar, khususnya dalam usaha produksi raw material. Menurut seorang peneliti dari University of Washington, ada tiga risiko utama dalam usaha perikanan. Pertama, teknis usaha perikanan, khususnya budidaya, sangat tergantung pada faktor alam yang fluktuatif dan tidak dapat diprediksi. Faktor ini tentu akan menjadi ancaman terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan yang mempengaruhi suksesi panen. Kedua, perikanan merupakan suatu komoditas usaha yang memiliki harga pasar dengan volatilitas tinggi. Harga yang tidak menentu ini juga akan mempengaruhi minat investor dalam menanamkan modal pada pengusaha. Ketiga, faktor manajerial di lapangan. Faktor ini tentu sangat mempengaruhi keberlangsungan usaha perikanan dalam bidang budidaya, pengolahan, ataupun trading perikanan.

Keuntungan Equity Crowdfunding

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan pertumbuhan pesat equity crowdfunding platform di bidang agrikultur dan perikanan. Equity crowdfunding adalah layanan pendanaan bersama berbasis kepemilikan saham yang dilakukan oleh institusi pengelola untuk menjual saham secara langsung kepada pemodal melalui sistem digital. Sistem equity crowdfunding atau pendanaan bersama ini dinilai memiliki beberapa keunggulan dibandingkan beberapa sistem pemodalan lainnya. Seorang pakar dari European Comission, Garry A Gabison, berpendapat bahwa peran skema equity crowdfunding dapat menyakjikan sebuah pelayanan yang secara persyaratan sederhana namun tetap fungsional. Terlebih lagi, sistem ini juga menyediakan skema pengembalian investasi yang tidak terlalu membebani peminjam karena seringkali menggunakan sistem bagi hasil

Dengan proses penghimpunan dan pencairan yang lebih cepat, lembaga ini tentu menyuguhkan skema kerjasama yang saling meringankan mitra, investor, dan lembaga keuangan itu sendiri. Prinsip “Shared profit shared responsibilities” membuat para pihak terkait tidak merasa diberatkan jika ada dinamika usaha yang sedang turun. Selama stase pendanaan, mitra juga akan mendapatkan non-financial support seperti program capacity building, pengawasan keuangan, dan sebagainya.

Gambar 2. Crowd-Investment Dalam Value Chain Perikanan

Equity Crowdfunding dalam Value Chain Perikanan

Crowdfunding sebagai basis penggalangan dana memberikan modal sekaligus nilai yang berdampak sosial atau lingkungan. Skema pendanaan ini sangat potensial untuk menjadi fondasi utama dalam ekosistem bisnis perikanan dan kelautan di Indonesia yang memiliki pengusaha menengah. Lembaga keuangan berbasis pendanaan bersama ini dapat masuk ke setiap segi value chain perikanan mulai dari pra-produksi, produksi perikanan, hingga jual beli hasil olahan perikanan. Dengan kata lain, lembaga keuangan tersebut tentu harus memiliki fokus keahlian di bidang perikanan dan memiliki diversifikasi sistem seleksi mitra yang spesifik terhadap model bisnis mitra.

Model bisnis pra-produksi perikanan yang dimaksud adalah industri input-supply, usaha pengadaan pakan, jual beli pakan, pengadaan sarana dan prasarana perikanan, dan lain sebagainya. Tujuan akhir sektor bisnis ini adalah memastikan kesiapan proses produksi yang mana harus disertai input produk yang berkualitas tinggi untuk hasil yang optimal. Model selanjutnya adalah bisnis dalam tahap produksi perikanan yang meliputi pembenihan ikan, budidaya perikanan, dan penangkapan perikanan dimana proses produksi ini memakan biaya yang cukup besar dengan risiko kegagalan tinggi. Model yang terakhir adalah industri post-harvest perikanan yang meliputi ekspor-impor bahan mentah, pengolahan produk perikanan, hingga penjualan produk akhir melalui pasar online atau pasar konvensional.

Manajemen Risiko dalam Usaha Perikanan

Tentu dengan adanya sistem pendanaan yang memudahkan praktisi dan pengusaha perikanan, roda ekosistem bisnis perikanan ini dapat diintegrasikan dan dijalankan untuk mencapai produksi yang lebih optimal. Namun, untuk mengakomodir semua risiko yang besar pada usaha perikanan ini tentu dibutuhkan manajemen risiko yang komprehensif oleh setiap perusahaan berbasis equity corwodfunding dengan fokus perikanan. Mitigasi risiko ini terdiri dari usaha preventif melalui analisa risiko, asistensi proyek perikanan dan pengembangan agriculture credit scoring yang baik. Di sisi lain, diperlukan juga usaha kuratif selama proses produksi yang biasanya diwujudkan dalam penggunaan asuransi perikanan, skema pendanaan gagal produksi yang telah disepakati di awal, serta penggunaan teknologi. Selain itu, perusahaan berbasis equity corwodfunding juga diharapkan mampu memberikan opsi market yang mampu menjamin keterserapan produk yang dihasilkan. Jika seluruh aspek ini diintegrasikan dengan baik, maka Indonesia dapat mencapai sebuah ekosistem usaha perikanan yang berkelanjutan dan menguntungkan.

Indonesia dengan potensinya yang sangat melimpah, tentu harus menjadi bangsa yang optimis untuk mendukung skema bisnis baru ini. Dengan adanya skema pendanaan bersama yang aman dan komprehensif ini diharapkan adanya pertumbuhan bisnis perikanan yang sehat, berkelanjutan dan menguntungkan yang dapat mendukung Indonesia sebagai penggerak ekosistem bisnis perikanan dan poros maritim dunia.

 

Penulis:

Fariz Kukuh H

Referensi:

Adyansyah, Dino. 2016. Social finance: a new frontier for development in Indonesia. London School of Economics Business Review.

United Nation Development Programme. 2017. Social Finance and Social Enterprises:  A New Frontier for Development in Indonesia.

United Nation Development Programme. 2017. Overview of Social Finance in Indonesia.

Agriculture Finance Support. 2017. The Basics of Financing Agriculture: Basics of Value Chain Financing

Meyskens, M., and Lacy Bird. 2015. Crowdfunding and Value Creation. Entrep. Res. J. 5(2)

Gabison, G, A. 2015. Understanding Crowdfunding and its Regulations. European Comission.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *