Fintech Perikanan: Cermat Berinvestasi, Cegah Risiko Secara Dini

Menjamurnya fintech startup di Indonesia menjadi fenomena yang menarik dalam era digitalisasi multi sektor belakangan ini. Data statistik yang dilansi

Bermodal Semangat Gotong Royong, Masyarakat Tani Tulungagung Hidupkan Mobilisasi Produk Patin
Equity Crowdfunding: Penggerak Roda Ekosistem Usaha Perikanan
Sistem Logistik Ikan Nasional, Aktor Penting dalam Distribusi Perikanan Indonesia

Menjamurnya fintech startup di Indonesia menjadi fenomena yang menarik dalam era digitalisasi multi sektor belakangan ini. Data statistik yang dilansir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2018 menyebutkan bahwasanya terdapat 63 fintech peer-to-peer lending (P2P Lending) yang terdaftar, dan ada lebih dari 200 fintech yang masih dalam proses pendaftaran maupun persiapan pendaftaran. P2P lending yang berbasis crowd-financing ini tentu melibatkan banyak masyarakat dalam mekanisme pendanaannya, maka dari itu semakin besar pula tanggung jawab dan transparansi yang harus disajikan. Dengan jumlah dana terdistribusi lebih dari 7 triliun, tentu sektor usaha ini patut kita perhatikan potensi dan risikonya.

Perikanan dan pertanian (agro-complex) menjadi salah satu sektor yang banyak dieksplorasi dalam perkembangan dunia fintech di Indonesia yang memiliki potensi maritim dan agraria yang sangat besar. Dengan kehadiran P2P lending di sektor ini, banyak petani yang dapat terbantu dalam memulai atau menjalankan usahanya. Skema pendanaan baru dalam industri agro-complex ini tentu memiliki keunggulan, antara lain:

  1. Proses Investasi Yang Lebih Mudah

P2P lending startup dalam pelayanannya menggunakan birokrasi yang sangat ringkas dan juga mengaplikasikan kolaborasi teknologi yang dapat membantu investor berinvestasi hanya dalam sekali klik. Seperti contohnya penggunaan interface website yang sederhana atau penggunaan virtual account dan kerjasama lainnya yang memudahkan dalam melakukan transfer.

  1. Memiliki Sektor Bisnis yang Lebih Spesifik

Beberapa startup yang bergerak di bidang fintech biasanya bergerak dengan sektor bisnis yang spesifik seperti pertanian, perikanan, umkm, atau sektor bisnis lainnya. Hal ini tentu membuat calon investor akan dapat memilih jenis bisnis yang sesuai dan mereka kehendaki. Selain itu spesifiknya sektor ini juga membuat semua analisa kredit yang dilakukan startup fintech semakin presisi dan dapat diawasi. Salah satunya adalah sektor perikanan dan agro-complex yang akhir-akhir ini mencuri perhatian banyak investor.

  1. High Return

Budidaya perikanan dan usaha perikanan lainnya menawarkan margin profit yang cukup tinggi jika dibanding beberapa sektor usaha lainnya. Tingginya permintaan global akan produk perikanan membuat harga jual ekspor produk perikanan menjadi cukup tinggi. Sehingga, produk ini dapat menstimulus tingginya potensi profit yang dihasilkan. Meskipun juga perlu diingat bahwa sektor ini juga mempunyai risiko yang sangat tinggi dikarenakan variabel yang tidak bisa dikontrol seperti cuaca, adanya hama dan peyakit, dan lain sebagainya.

  1. Shared Risk

Risiko tersebut tentu menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam manajemen risiko. Namun, dengan menggunakan sistem pendanaan crowd-sourcing beban usaha dan beban risiko dapat dibagi secara merata kepada seluruh investor. Dengan terbaginya risiko, investor lebih dapat merasa aman karena risiko menjadi semakin kecil.

  1. Proses Pendanaan yang Mudah

Untuk pembudidaya ikan sendiri, metode pendanaan crowd-sourcing ini dinilai dapat menjadi salah satu akses pendanaan yang mudah, presisi, dan cepat. Selain itu, konsep bagi hasil yang ditawarkan juga terkesan tidak memberatkan pembudidaya ikan. Permasalahan yang mereka hadapi saat ini adalah rumitnya sistem assessment dan bunga yang kadang terkesan merugikan pembudidaya ikan karena bisnis ini dinilai memiliki harga yang sangat fluktuatif. Selain itu, jika pendanaan didapatkan dengan sistem hutang kepada tengkulak, supplier pakan, atau supplier benih maka pembudidaya ikan tidak bisa secara independen mengelola site usahanya.

  1. Memberikan dampak Lingkungan dan Sosial

P2P lending startup merupakan perusahaan triple-bottom dimana selain menghasilkan profit dalam model bisnisnya, perusahaan ini juga dapat memberikan dampak secara lingkungan dan sosial. Secara lingkungan P2P lending dapat mengubah lahan tidak terpakai menjadi lahan produktif yang mana dapat memberdayakan pembudidaya ikan lebih.

Namun, perlu diketahui juga bahwa bisnis budidaya perikanan ataupun pertanian tentu tidak lepas dari potensi risiko yang tinggi. Apalagi sektor ini sangat terkait dengan kondisi lingkungan dan kondisi sosiokultural yang sangat kompleks dan terkadang tidak bisa terprediksi dengan baik. Beberapa risiko kegagalan investasi merupakan implikasi dari beberapa faktor yang saling memicu satu sama lain, antara lain (1) Fraud yang dilakukan mitra, (2) Kegagalan produksi karena human error atau keadaan lingkungan yang fluktuatif, (3) Tidak likuidnya dana dari pendana ke mitra dan sebaliknya, (4) Sekuritas finansial dari platform yang ditawarkan. Jika satu hal terjadi

Risiko ini tentu tidak seharusnya mengurangi kredibilitas fintech terkait dan mengurungkan niat investor dalam berinvestasi. Manajemen risiko yang baik perlu diterapkan sebagai langkah solutif atas tantangan tersebut. Sesuai prosesnya, manajemen risiko ini haruslah terencana secara terkalkulasi dan kronologis mulai dari usaha preventif dan kuratif dalam pra-produksi hingga pasca-panen usaha budidaya perikanan atau pertanian.  Langkah tersebut dapat berupa (1) pengaplikasian Risk Assessment dan Credit Scoring yang Komprehensif secara kualitatif dan kuantitatif, (2) pengawasan legal usaha budidaya yang ketat, (3) Peningkatan keamaan finansial melalui teknologi, (4) penerapan teknologi budidaya perikanan yang advance untuk meminimalisir risiko lingkungan, dan (5) menjalin kemitraan dengan lembaga hukum dan lembaga kepemerintahan dalam pengawasan praktik fintech bersama.

Selain hal-hal tersebut, tentu keamanan investasi juga harus berasal dari setiap pribadi investor. Kecermatan dalam menganalisa sebuah proyek dan kredibilitas institusi pegelola dana sangat diperlukan sebelum menyalurkan modal usaha. Investor juga harus menyepakati prinsip-prinsip bisnis yaitu “High Return, High Risk” dan juga ketentuan kontrak secara terperinci.

Dengan kombinasi kecermatan investor dalam mendanai sebuah proyek dan kecermatan P2P lending startup dalam manajemen risiko yang baik, tentu akan memunculkan dampak yang sinergis. Sinergi ini berupa kelancaran usaha dan sekuritas dana yang selalu dapat diawasi dan dipertanggungjawabkan bersama. Hal ini tentu akan memperkuat sektor usaha perikanan dan pertanian kedepannya, dan menjadikan dua sektor ini menjadi sebuah produk investasi yang menjanjikan untuk banyak pihak terkait.

Penulis:

Fariz Kukuh

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0