Ikan Patin Berbulu Dori

Tahu kah kamu bahwa ikan dori yang disajikan di restoran kalangan menengah ke atas sebenarnya ikan patin? Ya, patin! Ikan air darat spesies Pangasius

Digitalisasi Bisnis Perikanan Indonesia
Equity Crowdfunding: Penggerak Roda Ekosistem Usaha Perikanan
Yuk, Kenali Berbagai Penyakit Udang! (Edisi Bakteri)

Tahu kah kamu bahwa ikan dori yang disajikan di restoran kalangan menengah ke atas sebenarnya ikan patin? Ya, patin! Ikan air darat spesies Pangasius Sp. yang masih satu rumpun dengan ikan lele (catfish) ini ternyata diam-diam menyusup ke dalam restoran-restoran. Mengapa bisa begitu? Lalu factor apa yang membedakan ikan patin dan ikan dori? Simak terus artikel ini karena Growpedia akan kasih tahu kamu jawabannya!

Semuanya berawal dari strategi marketing Vietnam. Sebenarnya, John Dory merupakan nama merk dagang perusahaan asal Vietnam dan memasarkan ikan patin dengan nama dori. Mengapa demikian? Karena seperti yang sudah dibahas, ikan patin merupakan spesies yang satu rumpun dengan lele, jika dipasarkan dengan nama Pangasius, maka ikan ini tidak akan mendunia dan memperluas sayapnya sampai ke benua Eropa. Agar lebih laku, ikan ini kerap dilabeli sebagai dori, ikan mahal yang kerap dipakai sebagai bahan baku untuk fish and chips. Mirisnya, situs berita Antara pada tahun 2011 pernah menulis bahwa Indonesia mengimpor sekitar 600 ton fillet ikan dori per bulan yang sebagian besar berasal dari Vietnam. Padahal Indonesia punya banyak produksi ikan patin.

Dari kasus mislabelling ini, pihak yang paling dirugikan adalah konsumen karena keawamannya untuk membedakan rasa ikan. Konsumen kerap membayar sesuatu lebih mahal dari harga yang semestinya, dan terlebih lagi permasalahan di bidang kesehatan. Ikan patin impor dari Vietnam yang diakui sebagai dori itu sudah terbukti mengandung pemutih dan pengawet jauh melebihi batas. Dari hasil operasi KKP dan Bareskrim Polri pada April lalu, diketahui pula bahwa dori ilegal itu mengandung tripolyphosphate (pemutih, juga kerap dipakai sebagai pengawet) dalam jumlah melampaui ambang batas. Dalam sampel yang diuji, kadar tripolyphosphate di ikan impor itu mencapai 7.423,18 ppm dan 8.251,26 ppm. Padahal ambang batas yang diperkenankan adalah 2.000 ppm/ kilogram (Wibisono, 2017).

Lalu mengapa banyak orang merasakan bahwa ikan dori ini lebih enak dari pada ikan patin? Itu semua ditentukan oleh cara pembudidayaan dari ikan tersebut. Jika Ikan tersebut dibudayakan dengan sangat baik dan juga memperhatikan lingkungan tempat tinggal serta makanan yang diberikan, tentunya dapat menghasilkan ikan patin yang berkualitas tinggi.

Di Indonesia tampaknya pembudidayaan ikan patin sendiri masih kurang maksimal, sehingga ikan patin yang ada di Indonesia kurang diminati karena lingkungan hidupnya yang meyerupai ikan lele. Apabila pembudidayaan ikan patin dilakukan dengan baik, maka harga jual ikan patin asal Indonesia akan tinggi di pasaran domestik, bahkan mungkin akan bersaing dengan Vietnam dalam ekspor ikan spesies ini. Nah pals, melihat potensi ini, bagi kalian yang ingin memulai bisnis budidaya perikanan, mungkin ikan patin bisa jadi pilihan yang tepat!

 

Penulis:
Quartina Pinunjul Winarti
Source:
Nuran Wibisono – 12 Oktober 2017. Tak Perlu Terpaku pada Ikan Dori Palsu.
https://tirto.id/tak-perlu-terpaku-pada-ikan-dori-palsu-cyfx

COMMENTS

WORDPRESS: 0