Menekan Biaya Produksi dengan Efisiensi Pakan Udang

Pengelolaan tambak yang baik dapat menyebabkan pertumbuhan yang baik pula bagi udang, namun hal ini tidak akan maksimal tanpa adanya dukungan dari kan

Penuh Harapan, Susi Pudjiastuti Andalkan Udang sebagai Pahlawan Devisa Negara
Ciptakan Budidaya Udang Berkualitas Unggul dengan Penerapan Biosecurity
Realitas Risiko Investasi Agrikultur pada Platform Peer-to-Peer Lending

Pengelolaan tambak yang baik dapat menyebabkan pertumbuhan yang baik pula bagi udang, namun hal ini tidak akan maksimal tanpa adanya dukungan dari kandungan gizi pakan yang diberikan setiap harinya. Seperti halnya makhluk hidup lainnya, udang juga memerlukan nutrisi dan vitamin yang tinggi untuk dapat tumbuh sehat.

Pakan memiliki pengaruh terhadap besar kecilnya modal usaha atau biaya produksi yang harus dikeluarkan pada budidaya udang. Pakan bisa mencapai 50-70% dari total biaya yang dikeluarkan tiap siklusnya. Disisi lain, pakan juga menyebabkan 60% dari masalah yang ada di dalam tambak melalui akumulasi dari sampah organik. (Panakorn, 2012). Hal yang perlu dilakukan jika pengeluaran ingin ditekan adalah melakukan efisiensi pemberian pakan. Selain itu, penting untuk melakukan manajemen pemberian pakan dengan mempertimbangkan target pertumbuhan udang serta kemampuan ekosistem tambak mendaur ulang nutrisi (amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat) agar tidak merusak kualitas air. Terdapat 3 tingkat kadar pemberian pakan:

⦁ Under feeding: pakan yang diberikan dibawah kebutuhan udang. Menyebabkan pertumbuhan lambat dan nilai konversi pakan atau feed conversion ratio (FCR) tinggi.
⦁ Over feeding: pemberian pakan berlebihan dari kebutuhan udang. Menyebabkan pertumbuhan cepat pada awal budidaya, nilai konversi pakan (FCR) tinggi, terjadi penurunan kualitas air, dan sering diikuti terserangnya penyakit.
⦁ Optimum: pemberian pakan sudah tepat dengan kebutuhan udang. Hasilnya meningkatkan pertumbuhan udang, kualitas air terjaga, dan terjadinya efisiensi pemberian pakan.
FCR adalah salah satu indikator apakah pakan sudah efisien atau berlebihan. Efisiensi pemberian pakan akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal dan juga biaya produksi yang lebih rendah. Pemberian pakan harus memperhatikan aspek waktu pemberian pakan dan frekuensi. Frekuensi yang dimaksud adalah seberapa sering pakan diberikan beserta jarak antar pemberian pakan. Jumlah dan frekuensi pemberian pakan dalam satu hari dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau menyesuaikan program pakan yang dipakai.

Strategi pemberian pakan mempertimbangkan banyak hal, diantaranya:
⦁ Ukuran butir pakan harus menyesuaikan ukuran udang,
⦁ Jumlah pakan harus ditentukan berdasarkan jumlah tebar udang dan membandingkannya dengan nilai sintasan (SR) udang yang menggambarkan populasi udang saat itu, ukuran udang, konversi pakan (FCR), hasil kontrol nafsu makan melalui cek ancho, dan kualitas air atau kondisi cuaca saat itu,
⦁ Cara pemberian pakan, ditabur manual maupun penggunaan autofeeder harus mempertimbangkan frekuensi pemberian pakan berdasar jumlah udang, pemberian pakan yang merata di seluruh bagian kolam, waktu pemberian, dan jarak antar pemberian pakan.
⦁ Pemberian pakan dengan memperhatikan kualitas air. Ada beberapa parameter air yang berdampak pada pemberian pakan, yakni oksigen terlarut (DO) dan suhu air. Nafsu makan udang akan mengalami penurunan jika tingkat DO kurang dari 4ppm dan akan berhenti makan ketika DO nya dibawah 2ppm.
⦁ Pemberian pakan sesuai kondisi cuaca. Suhu yang optimal untuk pemberian pakan berkisar antara 26°C-32°C. Setiap penurunan suhu sebesar 2°C volume pakan yang diberikan sebaiknya dikurangi 30% dari rata rata volume pakan harian. Semakin panas suhu air, maka udang akan semakin agresif, maka mereka akan semakin cepat makan dan semakin cepat pula ekskresi (membuang kotoran), sehingga perlu diperhatikan pula kondisi kotoran yang ada di kolam.

Efisiensi pakan udang ini bisa diterapkan sebagai salah satu alternatif mengurangi biaya operasional, namun tetap memperhatikan kandungan nutrisi yang diberikan kepada udang. Karena produk udang yang berkualitas tinggi dimulai dari proses budidaya yang sehat dan pakan yang bermutu tinggi.

Penulis:
Quartina Pinunjul Winarti
Source:
⦁ Jala Tech. (2019, May 09). Otak-atik Program Pakan. Diakses dari, ⦁ https://app.jala.tech/kabar_udang/
⦁ Panakorn, S. 2012. Opinion article: more on early mortality syndrome in shrimp. Aqua Culture Asia Pacific, Volume 8 No. 1, 8-10.

COMMENTS

WORDPRESS: 0