Mengapa Kita Harus Membangun Industri Perikanan Budidaya?

Tiga tahun Presiden Joko Widodo memimpin Indonesia, banyak pencapaian yang telah dilakukan, khususnya dalam pembangunan infrastruktur. Bertambahnya jalan tol sepanjang 560 km, jalan trans Papua, Sumatera, Kalimatan, jembatan dan lain-lain, merupakan sebuah prestasi yang tidak pernah dicapai dalam pemerintahan sebelumnya.

Namun, pembangunan infrastruktur yang megah itu tidak berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja. Data BPS pada 2016 menunjukkan, penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi justru turun 230 ribu orang. Para ekonom dalam berbagai kesempatan pun menyatakan bahwa daya beli masyarakat jatuh, yang berakibat pada bertambahnya penduduk miskin.

Target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka  Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 sebesar 7% per tahun memang sudah tepat. Namun sayangnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5 % per tahun dalam tiga tahun terakhir (BI, 2017). Sifat pertumbuhannya pun kurang berkualitas, hanya menciptakan lapangan kerja untuk 250 ribu orang per 1%  pertumbuhan.

Artinya, dalam setahun pertumbuhan ekonomi kita hanya dapat menyediakan lapangan kerja untuk sekitar 1,25 juta orang saja. Padahal, setiap tahun angkatan kerja baru bertambah kurang lebih 3 juta orang. Sebagai perbandingan, sejak awal 1980 hingga sebelum krisis keuangan Asia 1997, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 7% per tahun dengan penciptaan lapangan kerja rata-rata 400 ribu orang per 1%  pertumbuhan.

Rendahnya penyerapan tenaga kerja disebabkan karena sumber pertumbuhan ekonomi selama 3 tahun terakhir sebagian besar berasal dari sektor non-tradable seperti keuangan dan jasa yang sebagian besar terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek dan wilayah perkotaan lainnya.

Gambar 1. Low quality og growth, 2000-2003 (Sumber: Faisalbasri.com)

Sejak tahun 2000 pertumbuhan sekor tradable selalu lebih lambat daripada sektor non-tradable dengan kecenderungan kesenjangannya semakin lebar. Oleh karena itu, Indonesia harus memacu pertumbuhan ekonomi dari sektor rill tradable, seperti kelautan-perikanan (KP), pertanian, kehutanan, ESDM, dan industri manufaktur. Sebab, sektor rill tradable mampu membuka lapangan kerja untuk sekitar 500 ribu orang per 1% pertumbuhan, sementara sektor non-tradable hanya sekitar 150 ribu orang (Bappenas, 2012). Lebih dari itu, lokasi kegiatan sektor rill tradable pada umumnya di wilayah pesisir, pulau kecil dan perdesaan, sehingga akan mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah dan ketimpangan sosial-ekonomi.

Sebagai negara kepulanan terbesar di dunia, sektor KP mestinya dapat menjadi penggerak (prime mover) perekonomian nasional. Meskipun kontribusi sektor KP terhadap PDB masih relatif rendah (3,5%), namun peran sektor KP bagi ekonomi mikro dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat cukup signifikan. Sektor ini telah menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 2,7 juta nelayan laut, 0,5 juta nelayan perairan umum darat, dan 3,5 juta pembudidaya perikanan di perairan laut, payau, dan tawar.

Sekitar 6,7 juta pekerja sektor perikanan tangkap dan budidaya tersebut diperkirakan telah membangkitkan lapangan kerja pada industri hulu dan hilirnya sebanyak 1,5 kali dari jumlah tersebut, yakni 10,05 juta. Dengan demikian, jumlah penduduk yang bekerja di sektor KP sekitar 16,75 juta orang atau 13,37% dari total angkatan kerja Indonesia.

Memilih Fokus

Salah satu janji Presiden Joko Widodo pada saat kampanye pemilihan presiden 2014 lalu adalah meningkatkan produksi perikanan dua kali lipat pada tahun 2019. Pertanyaannya, bagaimana kerangka pelaksanaan janji tersebut, mengingat pemerintahan Jokowi hanya menyisahkan waktu 2 tahun lagi? Bila produksi perikanan tahun 2014 sebesar 20,8 juta ton, maka produksi perikanan tahun 2019 ditarget 40-45 juta ton. Dengan produksi perikanan sebesar itu, maka tumpuannya jelas pada perikanan budidaya. Mengapa demikian?

Gambar 2. Produksi perikanan Indonesia menurut subsektor, 1999-2015 (Sumber: BPS, 2017)

Pertama, produksi perikanan tangkap tumbuh stagnan dan sudah mencapai batasnya. Pasokan ikan dan produk perikanan lain dari sub-sektor perikanan tangkap di laut pada 2015 mencapai 6,2 juta ton atau 95% dari potensi produksi lestari (Maximum Sustainable Yield, MSY) sumberdaya ikan laut Indonesia, yakni 6,5 juta ton per tahun. Sementara itu, total produksi dari perikanan tangkap di perairan umum darat (sungai, danau, waduk) pada tahun yang sama sebesar 0,47 juta ton atau 52 persen dari nilai MSY-nya (0,9 juta ton per tahun).

Berdasarkan FAO’s Code of Conduct for Responsible Fisheries (1995), agar kelestarian sumberdaya ikan dan usaha perikanan dapat terjamin, laju penangkapan ikan yang diperbolehkan (Total Allowable Catch) tidak boleh melebihi 80%  dari nilai MSY-nya. Artinya, pasokan ikan dari perikanan tangkap laut dan perairan umum seluruhnya maksimum sebesar 5,92 juta ton setiap tahunnya. Dengan demikian, total produksi perikanan tangkap laut dan perarian umum darat yang pada tahun 2015 mencapai 6,67 juta ton telah melebihi standar perikanan berkelanjutan FAO.

Padahal kebutuhan akan ikan dan produk perikanan lain terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang keunggulan gizi ikani. Oleh karena itu, perikanan budidaya dapat menjadi tumpuan dalam menjawab tantangan tersebut. Terkait dengan realisasi janji Presiden Jokowi, perikanan budidaya dibebankan produksi hingga mencapai 33 juta ton di tahun 2019.

Kedua, potensi perikanan budidaya belum sepenuhnya termanfaatkan. Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia dengan panjang mencapai lebih dari 95.181 kilometer. Potensi tersebut jika dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya perikanan di perairan laut dan payau tentu berpeluang menghasilkan devisa yang besar bagi Indonesia dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sebagai contoh pada usaha budidaya udang vannamei misalnya. Jika kita mampu mengusahakan 100.000 ha tambak udang intensif (3,5% dari total potensi luas tambak nasional) dengan produktivitas rata-rata 40 ton/ha/tahun, maka dapat diproduksi 40 juta ton udang/tahun.

Dengan harga udang on-farm rata-rata 5 USD/kg, kita dapat menghasilkan 20 miliar USD/tahun. Bila diekspor setengahnya saja, kita akan meraih devisa 10 miliar USD/tahun. Bandingkan dengan nilai ekspor seluruh produk perikanan Indonesia tahun lalu yang hanya 3,5 miliar USD. Kemudian terkait dengan penyerapan tenaga kerja, jika rata-rata 1 ha tambak udang intensif membutuhkan 4 orang tenaga kerja, maka dari 100.000 ha tambak udang intensif dapat ditumbuhkan lapangan kerja untuk sekitar 400.000 orang. Belum lagi tenaga kerja yang dibutuhkan pada industri hulu dan hilir-nya seperti pembenihan (hatchery), pabrik pengolahan udang, serta industri penunjang seperti pakan, probiotik, es batu, dan sebagainya.

Kini saatnya pemerintah mendorong sektor kelautan dan perikanan, khususnya perikanan budidaya sebagai penggerak perekonomian Indonesia. Ini perlu ditunjang penciptaan iklim investasi yang kondusif, penyederhanaan perizinan, dukungan IPTEK, serta insentif permodalan. Dengan demikian, industri perikanan dapat tumbuh, menyejahterakan, dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan

Penulis:

Andhika Rakhmanda (Pegiat Forum Kajian Perikanan)

Referensi:

Badan Pusat Statistik. 2016. Konstruksi Dalam Angka 2016. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Bank Indonesia. 2017. Pertumbuhan Ekonomi 2017. Jakarta: Bank Indonesia.

FAO; Fishery and Aquaculture Economics and Policy Division. 1995. Code of Conduct for Responsible Fisheries. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.

Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 2012. Proyeksi Ekonomi 2013: Pertumbuhan Ekonomi Akan Tumbuh Di Atas Fondasi yang Kokoh. Jakarta: Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Referensi Gambar:

Badan Pusat Statistik. 2017. Produksi Perikanan Menurut Subsektor (ribu ton), 1999-2015. https://www.bps.go.id/statictable/2014/01/16/1711/produksi-perikanan-menurut-subsektor-ribu-ton-1999-2015.html. Diakses pada 1 Januari 2018.

Faisal Basri. 2013. Low quality og growth, 2000-2003. Dalam: Kualitas Pertumbuhan dan Kemerosotan Rupiah. https://faisalbasri.com/2013/08/25/kualitas-pertumbuhan-dan-kemerosotan-rupiah. Diakses pada 1 Januari 2018.

2 thoughts on “Mengapa Kita Harus Membangun Industri Perikanan Budidaya?

  • October 25, 2018 at 6:52 am
    Permalink

    Kunci yang sangat menghambat perikanan budidaya adalah salah satunya soal pakan. Pakan ikan yang mahal sempat di awal bu Susi menjabat digaungkan akan membuat proyek yang bernama GERPARI (gerakan pakan mandiri), yang katanya ditujukan untuk bisa membuat pakan ikan yang murah sehingga menaikkan keuntungan pebudidaya ikan.
    Setelah 4 tahun berselang, GERPARI sepertinya tenggelam atau ikut ditenggelamkan..
    Padahal inilah kuncinya. Semoga pemerintah bisa serius bekerja soal ini.

    Reply
    • November 29, 2018 at 4:19 am
      Permalink

      Terima kasih atas sarannya. Tentunya kami berharap adanya kolaborasi sehingga kami juga bisa turut serta dalam membangkitkan produksi pakan mandiri kembali.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *