Optimisme Growpal dalam Pengelolaan Investasi dan Manajemen Risiko

Pada artikel sebelumnya yang berjudul “Realitas Risiko Investasi Agrikultur pada Platform Peer-to-Peer Lending” telah dijelaskan adanya beberapa risik

Yuk, Kenali Berbagai Penyakit Udang! (Edisi Virus Bagian 1)
Lezat dan Bernutrisi, Udang Berperan Penting Dalam Kesehatan
Realitas Risiko Investasi Agrikultur pada Platform Peer-to-Peer Lending

Pada artikel sebelumnya yang berjudul “Realitas Risiko Investasi Agrikultur pada Platform Peer-to-Peer Lending” telah dijelaskan adanya beberapa risiko-risiko krusial yang ada dalam usaha agrikultur secara umum dan usaha perikanan secara khusus. Kita juga telah menelaah lebih dalam satu persatu bagaimana dampak jika terjadi kegagalan dalam sebuah unit usaha. Namun, perlu diketahui juga bahwa risiko yang besar bukan berarti akhir dari sebuah usaha, justru risiko-risiko tersebut merupakan tantangan yang mestinya dapat diselesaikan bersama, optimisme selalu ada di era solusi sains dan teknologi yang berkembang pesat dewasa ini. Umumnya dibalik risiko besar itu pula, terdapat profit yang cukup menjanjikan. Lantas, bagaimana tren investasi di bidang perikanan dapat berkembang positif kedepannya?

Mengapa harus investasi perikanan?

Pasti, investasi di bidang perikanan memiliki tren positif. Selama empat tahun terakhir aktivitas penanaman modal di bidang perikanan menunjukkan kenaikan pesat. Badan Koordinasi Penanaman Modal (2018) mencatat selama kurun waktu 2015-2018 realisasi investasi melampaui target yaitu sebesar Rp 2,572.30 triliun dari target Rp 2,558.10 triliun. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak potensi perikanan yang belum digarap secara optimal, selain itu tren tersebut juga mengikuti tren permintaan pasar akan produk perikanan yang semakin meningkat juga. Permintaan pasar selalu meningkat karena kebutuhan protein juga semakin meningkat.

Gambar 1. Data Kenaikan Angka Investasi Perikanan (Badan Koordinasi Penanaman Modal, 2018)

Faktanya, produk perikanan memiliki retensi protein yang paling tinggi yaitu 31% dibandingkan produk peternakan lainnya seperti babi, sapi, dan ayam (Global Aquaculture Alliance, 2019). Hal ini menunjukkan produk perikanan sangat berpotensi menjawab permintaan pasar yang terus meningkat terhadap kebutuhan protein. Terlebih lagi dikeadaan jumlah penduduk global yang terus bertambah setiap tahunnya. Selain itu, ikan juga memiliki FCR yang paling rendah diantara produk ternak lainnya yang mana juga akan berdampak kepada kebutuhan bahan dasar pembuatan pakan. Semakin besar nilai FCR semakin besar pula kebutuhan bahan protein untuk pembuatan pakan. Bahan pembuat pakan ini akhirnya bersaing dengan kebutuhan protein manusia. Dengan demikian, produk perikanan memiliki nilai unggul yaitu merupakan sumber protein paling tinggi dan tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan manusia.

Gambar 2. Perbandingan Kandungan Protein dan Kebutuhan Energi ANtar Produk Peternakan Perikanan (Global Aquaculture Alliance, 2019)

Dengan kata lain, penerimaan pasar akan bahan mentah perikanan ini dapat meningkatkan penjualan perikanan yang mana hal ini dapat mengakselerasi kesuksesan investasi perikanan. Kesuksesan investasi ini tentu menjadi sinyal positif bagi para investor dan calon investor yang berencana berinvestasi melalui platform peer-to-peer lending berbasis usaha perikanan kelautan.

Bagaimana langkah dalam menghadapi risiko tersebut?

Dalam setiap unit usaha perikanan yang didanai, Growpal selalu memberikan usaha maksimal untuk menekan risiko kegagalan, dan memperbesar potensi profit yang ada. Secara praktik, Growpal selalu memperbarui teknologi dan inovasi yang ada misal dengan pendampingan teknis dan literasi keuangan untuk usaha perikanan, penggunaan dompet elektronik, sistem keamanan berlapis, verifikasi data, hingga analisa potensi terjadinya bencana alam yang mengancam budidaya perikanan menggunkan Artificial Intelligence (AI). Selain itu, dalam perekrutan mitra Growpal menerapkan credit scoring khusus yang dilengkapi analisa psikometri yang dapat membantu pengambilan keputusan apakah calon mitra merupakan seseorang yang dapat dipercaya atau tidak. Dari segi pasar, Growpal juga turut membantu petani dalam menemukan pembeli dengan harga yang terbaik sehingga keuntungan dengan harga jual yang tinggi dapat dinikmati bersama oleh petani dan investor. Tentu hal ini cukup bisa menjawab tantangan bahwa Growpal harus menjadikan perikanan menjadi sebuah unit usaha yang aman dan menjanjikan.

Tentu usaha ini tidak akan berarti tanpa adanya investor sebagai kekuatan utama yang dimiliki Growpal maupun platform lainnya. Dengan sistem pendanaan bersama ini, investor Growpal telah memberikan dampak yang sangat massive kepada para petani ikan yang bermitra dengan Growpal. Menurut data Impact Investment Exchange (IIX) Singapore, pada 2018, Investor Growpal telah memberikan Social Return on Investment mencapai 1:3.5 yang berarti setiap nilai investasi senilai Rp 1,000,000.00 dapat dikonversikan menjadi Rp 3,500,000.00 pendapatan yang diterima oleh petani secara social, ekonomi dan lingkungan. Hal ini selain  menjadikan perikanan usaha yang sangat menguntungkan yang juga dapat memberikan dampak sosial yang cukup tinggi.

Growpal selaku entitas usaha teknologi finansial sangat yakin akan masa depan dunia perikanan di Indonesia karena sudah jelas-jelas negara ini 74% nya adalah lautan, Growpal hanya perlu terus fokus, berbenah dan belajar. Sementara itu, investor telah menjadi bagian yang sangat berpengaruh terhadap kesuksesan petani dan perikanan Indonesia. Dengan bekerja keras dan kerjasama yang kolaboratif dengan para investor, Growpal yakin bahwa dunia perikanan ini dapat direvolusi menjadi lebih baik kedepannya. 74% wilayah Indonesia adalah laut. Sungguh lucu jika selama ini “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” hanya kita sadari sebagai lagu kanak-kanak saja. Dengan pemanfaatan teknologi yang bijak, sudah saatnya sektor kelautan perikanan unjuk gigi bahwa sebenarnya dialah tulang punggung terkuat Bangsa.

Melalui teknologi internet, Growpal berkomitmen untuk menghadirkan sinergi yang kokoh antar seluruh stakeholder dalam industri perikanan dan kelautan. Mulai dari trader hasil laut, pembudidaya ikan, nelayan, produsen pakan ikan, end user market dan investor permodalan usaha perikanan melalui platform crowdfunding yang informatif. Kami berharap ini semua dapat membantu dalam membangun ekosistem industri perikanan yang lebih terintegrasi dan terdigitalisasi untuk tercapainya peningkatan produksi pangan berbasis perikanan di Indonesia.

 

Referensi:

Krisnadi, Iwan. 2018. Fin Tech Lending di Indonesia penyokong implementasi ekonomi Digital di Indonesia. Jakarta

Global Aquaculture Alliance. 2019. What is Aquaculture and Why Do We Need It?

Suhartono. 2019. Tren Investasi 2015-2018 Tumbuh Positif, Presiden RI Luncurkan KOPI MANTAP. Kementrian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Penulis:

Tim Produk dan Kerjasama Growpal

COMMENTS

WORDPRESS: 0