Penuh Harapan, Susi Pudjiastuti Andalkan Udang sebagai Pahlawan Devisa Negara

Udang adalah salah satu komoditas yang mendominasi perdagangan ekspor produk perikanan Indonesia. Karena alasan ini, Menteri Kelautan dan Perikanan, S

Growpal Earth, Kajian Kejadian Gempa di Lokasi Budidaya & Seluruh Wilayah Indonesia
Mengapa Kita Harus Membangun Industri Perikanan Budidaya?
Ikan Kerapu: Rasa Nikmat, Kaya Manfaat

Udang adalah salah satu komoditas yang mendominasi perdagangan ekspor produk perikanan Indonesia. Karena alasan ini, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mendorong udang sebagai jagoan untuk meraup devisa negara yang diungkapkan Susi saat memberikan arahan dalam agenda Shrimp Farmer Days di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Kamis (29/11/2018). KKP juga ingin membawa visi presiden membawa laut menjadi masa depan dunia dan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Hal serupa juga diungkapkan oleh Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Iwan Sutanto yang optimis Indonesia mampu mendominasi pangsa pasar ekspor. Menurutnya, untuk teknologi Indonesia selangkah lebih maju dari negara lain, seperti Vietnam dan Thailand. Harga udang internasional dipandang sebagai suatu keseimbangan antara permintaan dan penawaran ekspor. Ketika harga suatu komoditi meningkat dapat menyebabkan jumlah barang yang ditawarkan meningkat. Hal ini mengartikan bahwa harga internasional memiliki hubungan positif terhadap ekspor. Pada bulan Mei 2019, harga udang vaname adalah sekitar Rp 81.000 per kilogram.

Namun untuk memenuhi harapan tersebut, Susi Pudjiastuti juga memaparkan dalam seminar Innovative Aquaculture di Jakarta, dilansir dari KataData (30/11/2018), Indonesia memiliki tantangan ekspor udang ke sejumlah negara. Salah satunya mengenai persaingan kuat dengan sesama negara eksportir udang terbesar; India. Selain itu, pengusaha udang dinilai harus mulai berinovasi dengan membuat jenis-jenis baru. Dia pun mengarahkan pengusaha bisa kembali memanfaatkan potensi udang monodon (udang windu), udang asli Indonesia yang saat ini kurang dikenal di dunia di tengah booming varietas udang vaname. Karena jika semua varietas udang hanya vaname, akan sangat berbahaya apabila terjadi outbreak (wabah penjangkit), walaupun sebenarnya Indonesia diuntungkan sebagai negara kepulauan yang menyebabkan apabila terjadi suatu wabah, yang terjangkit kemungkinan hanya di satu pulau dan tidak merembet ke wilayah lain.

Varietas udang sangatlah bermacam-macam, namun jenis udang windu dan udang vaname merupakan varietas yang banyak diperdagangkan. Bentuk udang yang diekspor yaitu Fresh (udang segar) dan Frozen (udang beku) dalam bentuk Cooked (komoditas udang yang sudah dimasak atau direbus dengan waktu sekitar 15 detik) serta Peeled (komoditas udang yang sudah dipotong kepalanya dan dikupas kulitnya). Udang segar adalah produk yang dapat diproses lebih lanjut dan biasa diperdagangkan terbatas pada daerah-daerah yang dekat dengan pelabuhan perikanan dalam keadaan hidup dan didinginkan dengan es serta direndam dengan air garam, sedangkan udang beku merupakan udang yang telah diproses dan dibersihkan dan ditempatkan dalam ruang penyimpanan beku. Pembersihan udang sangatlah diperlukan dalam proses pembekuan untuk menghindari kerusakan udang yang diakibatkan oleh kontaminasi mikroba pembusuk. Karena perbedaan ini, udang segar memiliki harga yang relatif lebih rendah dibandingkan udang beku yang telah diolah. Di Indonesia sendiri, produksi udang beku sangat mendominasi karena udang segar proses produksinya lebih rumit dan membutuhkan perishable (penyimpanan dalam lemari es) sehingga pengiriman ke luar negeri dilakukan menggunakan pesawat atau melalui pembiusan yang membutuhkan biaya yang besar. Maka akan lebih menguntungkan apabila memproduksi udang beku yang telah diolah sehingga lebih mudah untuk dieskpor ke luar negeri.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan mahasiswa Universitas Lampung Fakultas Pertanian mengenai analisis daya saing udang Indonesia di pasar Internasional pada tahun 2017, udang mendominasi lebih dari 40% hasil perikanan untuk ekspor, di mana Amerika Serikat, Jepang dan Uni Eropa menjadi negara tujuan utama ekspor. Pasar tujuan ekspor utama dari Amerika Serikat (AS). Sedangkan di Eropa, Indonesia berada di urutan ke-16 pengekspor udang ke benua biru tersebut, sehingga pihak KKP juga mengingatkan pelaku usaha budidaya perikanan bahwa ekspor ke Eropa sangat besar peluangnya. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga mencatat komoditas udang masih menjadi primadona untuk ekspor hasil perikanan. Hingga akhir tahun 2018, ekspor udang diprediksi mampu menembus USD 1.8 miliar atau sekitar Rp 26.3 triliun dengan volume 180.000 ton. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan pihak KKP akan terus berupaya mendongkrak peningkatan ekspor udang nasional dengan target ekspor mencapai USD 2.8 miliar per tahun yang akhirnya akan membantu meningkatkan jumlah devisa negara. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Rifky Effendi Hardijanto. Upaya pemerintah untuk mendongkrak potensi perikanan Indonesia ini perlu didukung oleh banyak pihak agar dapat terwujud, mulai dari faktor sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya modal, eksistensi industri pendukung dan kondisi permintaan mendukung daya saing udang Indonesia untuk berkembang. Faktor utama yang paling krusial dalam mendongkrak ekspor udang dan meningkatkan devisa negara adalah para pelaku usaha budidaya perikanan dan investor yang mampu memberikan bantuan dana agar budidaya perikanan yang dilakukan para pelaku usaha dapat terlaksana dengan lancar tanpa adanya kendala dalam hal pembiayaan.

Kehadiran P2P lending company yang memberikan pelayanan investasi dengan keuntungan yang menjanjikan di lingkup perikanan merupakan bentuk solusi dari kendala berkembangnya potensi produk perikanan nasional. Salah satu faktor mengapa perkembangan budidaya perikanan Indonesia terhambat adalah terkendalanya modal pengusaha di bidang perikanan sehingga tidak dapat mengembangkan usahanya.  Harapannya, dengan adanya P2P lending company akan lebih banyak pengusaha budidaya ikan yang berhasil dan sukses dan akhirnya ikut meningkatkan produksi perikanan nasional sehingga mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim. Karena samudra, laut, selat, dan teluk adalah masa depan peradaban kita agar budidaya perikanan Indonesia semakin diakui dunia dan menjadi salah satu pilar ketahanan pangan dan nutrisi di Indonesia.

Penulis:

Quartina Pinunjul Winarti

COMMENTS

WORDPRESS: 0