Realitas Risiko Investasi Agrikultur pada Platform Peer-to-Peer Lending

Realitas Risiko Investasi Agrikultur pada Platform Peer-to-Peer Lending

Beberapa orang memilih berinvestasi daripada menabung secara konvensional, pasalnya investasi dapat mengkonversikan uang menjadi sebuah unit usaha ber

Lezat dan Bernutrisi, Udang Berperan Penting Dalam Kesehatan
Akuakultur Terintegrasi, Teknologi, dan Visi Besar Perkembangan Ekonomi
Digitalisasi Bisnis Perikanan Indonesia

Beberapa orang memilih berinvestasi daripada menabung secara konvensional, pasalnya investasi dapat mengkonversikan uang menjadi sebuah unit usaha berjalan yang nantinya dapat menghasilkan profit (Return on Investment) lebih daripada sekedar bunga. The Jakarta Post (2019) melaporkan bahwa pertumbuhan aktivitas pinjaman investasi di Indonesia mengalami percepatan dari 4.8% menjadi 9.8 per tahun.  Seiring meningkatnya aktivitas investasi di Indonesia, bertambah pula opsi wadah untuk berinvestasi. Salah satunya adanya start-up Peer to Peer (P2P) lending yang menyediakan pelayanan berupa produk investasi masal di bidang agrikultur yang meliputi proyek-proyek budidaya pertanian, peternakan, maupun budidaya perikanan. Selama dua tahun terakhir, tren P2P lending dalam ekosistem investasi meningkat pesat. Seperti yang telah dicatat oleh Otoritas Jasa Keuangan (2018), jumlah akun peminjam (lender) meningkat dari 14,364 user pada tahun 2016 menjadi 135,025 user pada tahun 2018. Peningkatan ini terjadi pula pada tingkat jumlah peminjam dan dana yang telah didistribusikan. Dana yang telah terdistribusis sendiri meningkat dari 284.15 milyar rupiah pada tahun 2016 menjadi 9,213 milyar pada tahun 2018.

Bidang agrikultur sendiri, khususnya budidaya perikanan, seringkali dihadapkan risiko kegagalan produksi yang tidak terduga. Dalam sebuah studi oleh United States Department of Agriculture (2018), tercatat bahwa ada lima faktor utama peyebab kegagalan dalam agrikultur yaitu risiko produksi, risiko pasar, risiko finansial, risiko intitusional, dan risiko sumberdaya manusia. Banyak proyek perikanan yang tidak bisa berlanjut karena adanya bencana alam, kesalahan teknis, harga jual yang turun, dan masalah kegagalan lainnya. Namun, antusias masyarakat dalam berinvestasi di industri agrikultur dan perikanan semakin masih cukup tinggi. Pada dasarnya memang kegiatan budidaya perikanan, trading perikanan, hingga pengolahan perikanan menawarkan potensi margin dan profit yang tinggi dengan waktu produksi yang lebih singkat. Tentu kondisi ini merupakan hal yang positif dalam ekosistem investasi agrikultur di Indonsesia, namun hal ini juga harus diiringi kecermatan dan kewaspadaan dalam setiap kegiatan investasi yang dilakukan.

Budidaya perikanan, khususnya komoditas ekspor seperti udang dan kerapu, merupakan bisnis yang sangat menguntungkan dengan pengembalian profit yang sangat tinggi. Namun kemungkinan gagal produksi juga sangat tinggi, bahkan satu kegagalan produksi dapat mematikan bisnis itu sendiri dan mengasilkan kerugian modal yang sangat besar. Kegagalan produksi budidaya ini diakibatkan banyak hal seperti perubahan lingkungan, aktivitas alam, wabah penyakit, turunnya harga pasar, dan beberapa hal tak terduga lainnya. Dalam hal ini, seluruh pihak terkait termasuk petani dan investor wajib menanggung segala bentuk kerugian yang diakibatkan risiko-risiko tak terduga tersebut secara bersama. Belum lagi masalah financial seperti risiko waktu tunggu investasi dimulai, risiko tidak bisa menarik investasi di tengah jalan, risiko keterlambatan pembayaran, hingga risiko gagal bayar. Pihak P2P lending juga harus dapat menjadi penengah permasalahan dengan melakukan klarifikasi permasalahan lapang apakah kerugian disebabkan oleh hal yang tak terduka (force majeur) atau murni ketidakprofesionalan pembudidaya ikan seperti ketidaksesuaian Standar Operasional Prosedur (SOP), telat pakan, salah penanganan air, kelalaian petani atau lain sebagainya.

Ketika dihadapkan risiko-risiko tersebut, lantas apakah berinvestasi melalui platform investasi P2P lending masih cukup relevan? Sementara itu kegagalan adalah bagian dari risiko usaha. Tentu investor memiliki tanggapan yang cukup variatif. Beberapa investor mengambil sikap reaktif dan agresif ketika terjadi kegagalan ataupun target produksi perikanan yang belum tercapai. Terlebih lagi ada investor yang belum memahami sepenuhnya konsep investasi, sehingga mereka seakan menutup mata akan penyebab kegagalan produksi, ataupun kendala-kendala yang terjadi di lapangan. Selain itu, ada pula investor dengan tipikal diam dan tidak cukup mengetahui kondisi investasinya. Namun, banyak juga investor yang bersikap suportif terhadap kegagalan investasi yang dialami, mereka lebih memilih mempelajari dulu penyebab kegagalan di lapangan, mengklarifikasi secara langsung kepada pembudidaya ikan atau pihak ketiga, dan bahkan memberikan solusi untuk manajemen lapangan yang lebih baik.

Tentu respon tersebut tidak bisa dihindari dan dibebankan secara langsung kepada investor. Bahkan respon investor tersebut bisa menjadi sebuah indikator apakah suatu produk investasi tersebut berjalan secara sehat atau tidak. Pihak perusahaan P2P lending dinilai kurang edukatif dan komunikatif jika memang permasalahan datang dari tidak adanya penyampaian laporan perkembangan budidaya atau tidak jelasnya kondisi di lapangan. Meski begitu, proses pelaporan ini juga bisa saja datang dari petani sendiri yang terlambat dalam pelaporan, kurang jujur ataupun kurang terbuka akan kondisi di lapangan. Jika melihat pola yang saling terkait seperti ini, maka perlu sebuah analisa mendalam apakah permasalahan pelaporan terjadi karena investor yang kurang teliti dalam membaca, perusahaan P2P lending yang tidak melakukan manajemen pelaporan dengan baik, atau petani yang tidak disiplin dalam pelaporan.

Selanjutnya, dari kejelasan pelaporan tersebut kita dapat mengerti secara jelas apa penyebab kegagalan di lapangan. Jika memang terindikasi adanya force majeur yang tidak bisa dicegah, maka seluruh pihak harus mengacu kembali pada kontrak bahwasannya kegagalan adalah risiko dan wajib ditanggung bersama. Pihak perusahaan P2P lending wajib menjelaskan permasalahan secara edukatif, terstruktur dan jelas, serta bertanggung jawab mengkoordinir mekanisme mitigasi kegagalan yang disepakati dalam kontrak. Jadi, bisa disimpulkan bahwa letak komunikasi dan edukasi perusahaan P2P lending menjadi titik krusial dalam mendefinisikan sebuah produk investasi yang sehat.

Memang dampak dari kegagalan force majeur tidak bisa dihindarkan dan dicegah, namun keaadaan tersbut masih bisa diminimalisir dengan menjalankan peran masing-masing dengan cermat dan bertanggung jawab. Sebagai perusahaan P2P lending, kewajiban yang harus dilakukan adalah (1) melakukan analisa kredit dan analisa risiko proyek yang sangat mendalam, (2) memperjelas kontrak kerjasama, (3) melakukan manajemen cash-flow dari investor ke petani dan sebaliknya dengan terintegrasi dan aman, (4) melakukan pengawasan lapang, (5) menyediakan pelaporan yang berkala dan jelas, (5) mengkoordinir mitigasi risiko dengan cepat, dan (6) membuka kesempatan investor untuk melihat kondisi lapang secara langsung. Dari seluruh poin tersebut, dapat disimpulkan jika platform P2P lending belum melakukan seluruh rangkaian proses tersebut maka bisa dikatakan bahwa perusahaan tersebut cukup tidak reliable.

Sementara itu, sebagai investor, kebijakan dalam berinvestasi perlu diperhitungkan secara mendalam hingga mendapatkan gambaran yang jelas akan potensi profit dan gagalnya.  Kewajiban yang harus dilakukan investor yaitu (1) membaca dengan cermat profil petani, risiko, dan kontrak kerjasama yang sudah disediakan oleh pihak P2P lending, (2) mengecek laporan berkala yang tersedia pada platform, (3) mempelajari konsep risiko investasi bahwa tetap ada potensi kegagalan dan kerugian, serta (4) selalu mengklarifikasi kepada pihak perusahaan P2P lending dengan etika yang baik dan analisis yang benar. Setelah pihak investor dan pengelola dana telah melakukan kewajibannya dengan baik, maka kewajiban selanjutnya dibebankan ke petani untuk melakukan kegiatan budidaya perikanan dengan profesional dan mengikuti kontrak kerjasama terkait pengembalian investasi, mitigasi risiko, dan pelaporan kegiatan.

Dengan demikian, dapat terwujud suatu produk investasi yang sehat dimana setiap mendapatkan kejelasan kegiatan, serta hak dan kewajiban masing-masing pihak. Kita juga harus tetap menyadari bahwa investasi tak selalu sukses, dan agrikultur berada di antara keuntungan atau kebuntungan.  Dengan kata lain, harus ada keberanian dan kesabaran untuk mencari keuntungan yang besar dalam arus ketidakpastian.

Penulis:

Tim Produk dan Kerjasama

Growpal, PT SAY Grow Indonesia

Referensi:

United States Department of Agriculture. 2018. Economic Research Service.

Chandra, M. 2019. The return of loan growth in Indonesian banking system. The Jakarta Post.

KPMG. 2018. The Fintech Edge.

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: