Yuk, Kenali Berbagai Penyakit Udang! (Edisi Virus Bagian 1)

Hello, pals! Penyakit udang yang disebabkan oleh bakteri dan jamur sudah kita bahas di artikel sebelumnya. Dalam artikel Growpedia kali ini akan dibah

Ikan Patin Berbulu Dori
Lezat dan Bernutrisi, Udang Berperan Penting Dalam Kesehatan
Mengapa Kita Harus Membangun Industri Perikanan Budidaya?

Hello, pals! Penyakit udang yang disebabkan oleh bakteri dan jamur sudah kita bahas di artikel sebelumnya. Dalam artikel Growpedia kali ini akan dibahas berbagai jenis penyakit udang yang disebabkan oleh virus. Virus adalah salah satu penyebab penyakit pada udang yang mengkhawatirkan para petambak dan faktor yang mendominasi dalam daftar penyakit udang. Penyakit-penyakit ini perlu diwaspadai karena menyebabkan penurunan produksi dan dapat menyebabkan kerugian besar. Bahkan sering tingkat kematian hingga 100% pada udang di dalam tambak.
Virus yang menyebabkan penyakit pada udang diantaranya White Spot Syndrome Virus (WSSV), Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), Infectious Hepatopancreatic and Haemotopoietic Necrosis Virus (IHHNV), Taura Syndrome Virus (TSV), Covert Mortality Nodavirus (CMNV), dan Yellow Head Virus (YHV). Apa saja gejala penyakit ini? Bagaimana penularannya dan dampaknya bagi udang? Simak terus artikel ini dan temukan jawabannya!

PENYAKIT UDANG OLEH PATOGEN VIRUS:

⦁ Yellow Head Disease (YHD)
Yellow Head Disease (YHD) diakibatkan oleh Yellow Head Virus (YHV), ditandai dengan warna kepala berubah menjadi pucat hingga kekuningan. Gejala lain yaitu berkurangnya nafsu makan dan berenang hanya di permukaan.

Metode diagnosa: ekor udang tampak kemerah-merahan disertai warna kuning menyala pada kepala udang dan warna insang pada udang berwarna pucat atau kecoklatan. Tanda-tanda ini bisa saja tidak muncul pada udang yang telah terinfeksi, sehingga penting untuk mengkonfirmasi diagnosa dengan pewarnaan insang dan pengecekan hemolimfa. Diagnosa lebih lanjut adalah mengunakan RT-PCR.

Jika penyakit ini menginfeksi udang, mortalitas atau tingkat kematiannya meningkat menjadi 100% dalam jangka waktu 3 hingga 5 hari setelah terjangkit. Adapun penyakit ini tercatat dapat muncul pada hari ke 50-70 setelah tebar saat udang berukuran 5-15 gram. Penularan umumnya terjadi secara horizontal melalui peristiwa kanibalisme atau melalui air dan menginfeksi telur. Dapat juga terjadi secara vertikal, yaitu dari indukan ke anakannya. Penyakit ini pertama kali muncul di Thailand, dan penyebarannya telah mencapai Sri Lanka, Indonesia, Filipina, China, Taiwan dan Malaysia.

⦁ White Spot Syndrome (WSS / WSD)
Gejala klinis yang tampak pada udang yang terinfeksi berupa bintik putih, biasanya berbentuk lingkaran pada kulit dan terkadang disertai oleh kemerahan pada seluruh tubuh, hepatopankreas membesar dan berwarna putih kekuningan, hilangnya nafsu makan dan setelah beberapa hari udang tampak sekarat dan berenang di atas permukaan air di dekat pinggiran kolam.

Penyakit ini dapat dipicu dengan adanya faktor stres misal perubahan salinitas yang mendadak. Selain salinitas juga dipengaruhi suhu, rendahnya DO, dan tingginya konsentrasi amonia dapat menjadi faktor stres. Pada prinsipnya penyakit dapat menyerang udang dengan kombinasi antara kondisi lingkungan, kondisi inang (udang), dan adanya patogen (virus), adanya interaksi yang tidak serasi antara ketiganya akan menyebabkan stres pada udang dan akhirnya udang terserang penyakit. Kondisi lingkungan yang menyebabkan stres pada udang dapat menurunkan sistem imun.

Virus ini dapat mengakibatkan kematian total mencapai 70-100% populasi udang di tambak, pada infeksi taraf akut kematian terjadi dalam 2-10 hari setelah muncul tanda-tanda klinis. Kematian dapat mulai terjadi setelah 1-2 hari pasca infeksi dan terjadi kematian massal pada hari ke 3-10 mencapai 80%-100%. Kematian udang yang terkena WS menurun ketika suhu diatas 32°C. Virus tersebar dengan jalur horizontal misalnya kanibalisme dan predasi serta dapat melalui jalur aliran air dan masuk ke insang.

WSD dideteksi awal terjadi pada 1992 di Tiongkok kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara hingga ke wilayah Amerika Latin. Awal terjadi di Indonesia pada 1994 di pesisir utara Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat hingga mencapai daerah Aceh Selatan.

⦁ Taura Syndrome (TSV)
Udang yang terinfeksi akan lemah dan mengalami disorientas. Biasanya terdapat bercak hitam pada bagian tubuh yang mengalami perubahan warna dan udang akan mengalami kematian. Seluruh permukaan tubuh berwarna kemerahan terutama bagian kipas ekor. Kulit udang menjadi lembek dan mati saat terjadi molting (proses pergantian kulit).

Pada udang yang terkena penyakit ini khususnya pada udang fase post-larva dan juvenil, tingkat mortalitas atau kematian naik menjadi 80 hingga 95%. Udang yang selamat dari kematian akibat TSV jika tumbuh besar dapat terus membawa virus dan tidak mati menjadi resisten dan sulit terkena penyakit ini lagi.

Probabilitas penyebaran virus ini dapat terjadi apabila kontrol kualitas benih impor tidak tersertifikasi. Penyebaran virus ini dapat melalui air dan kontak langsung antar udang, ada juga beberapa jenis crustasean carrier yang membawa virus ini. Serangga air dan burung laut juga diindikasikan dapat menjadi virus carrier.

Virus ini pertama kali muncul di sungai Taura yang terdapat di Ecuador negara bagian Amerika. Penyebarannya sampai saat ini belum memasuki wilayah Asia, kebanyakan terdapat di Colombia, Peru, Brazil, Hawaii, Texas dan Florida.

Yellow Head Disease (YHD), White Spot Disease (WSD), dan Taura Syndrome (TSV) hanya lah sebagian dari penyakit udang yang disebabkan oleh virus. Kelanjutan pembahasan virus yang menyebabkan penyakit pada udang akan dilanjutkan pada artikel Growpedia selanjutnya!

Penulis:
Quartina Pinunjul Winarti
Source:
⦁ Jala Tech. (2019). Daftar Penyakit Udang. Diakses dari, https://app.jala.tech/diseases

COMMENTS

WORDPRESS: 0